Candi Cetho

Mengingat kejayaan Indonesia di masa silam, tentu tak bisa lepas dari adanya dan jayanya kerajaan-kerajaan yang ada dulu.

Mulai dari kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam — semua mewarnai sejarah nusantara.

Khusus untuk kerajaan Hindu dan Buddha, tak sedikit yang meninggalkan “jejak sejarah” berupa situs-situs bersejarah yang sampai saat ini bisa kamu datangi.

Candi Cetho merupakan salah satu situs bersejarah berbentuk candi yang ada di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah.

Candi Cetho Karanganyar

Ya, Candi Cetho yang letaknya di ketinggian 1496 mdpl ini kemungkinan besar dibangun pada masa-masa Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu.

Perlu kamu ketahu — bahkan sampai saat ini — kompleks candi ini masih digunakan oleh penduduk lokal dan peziarah Hindu sebagai tempat pemujaan.

Lebih jauh, candi ini juga sering dijadikan tempat tapa bagi para Kejawen.

Sejarah / Legenda

Candi Cetho yang juga berlokasi di Desa Cetho ini memiliki nama yang sama, Cetho.

Apa artinya?

Dalam Bahasa Jawa, Cetho artinya jelas. Jelas ketika kamu sedang berada di Dusun Cetho, kamu bisa dengan jelas melihat pegunungan yang ada di sekitar, seperti Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Sumbing.

Dibangun di masa akhir era Kerajaan Majapahit sekitar abad 15 Masehi, Cetho memiliki bentuk arsitektur yang khas — berbeda dengan candi pada umumnya.

Awalnya, candi ditemukan pertama kali oleh sejarawan Belanda bernama Van de Vlies lewat laporan ilmiah yang dibuatnya.

Penelitian mengenai candi ini terus dilanjutkan oleh para ahli dan sejarawan lain, salah satunya adalah A. J. Bernet Kempers.

Baru pada tahun 1928, Dinas Purbakala dari Hindia Belanda melakukan ekskavasi terhadap Candi untuk direkonstruksi.

Ketika digali, para peneliti menyimpulkan usia Cetho tidak berbeda jauh dengan Candi Sukuh yang notabene letaknya berdekatan.

Filosofi

Cetho terdiri dari 9 tingkat berundak. Sebelum gapura besar, ada 2 pasang arca penjaga.

Pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi.

Sebelum kamu memasuki aras kelima, di dinding sebelah kanan gapura terdapat tulisan aksara Jawa kuno,

pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397

Yang kurang lebih berarti fungsi candi sebagai tempat pensucian diri dan gapura tersebut dibuat di tahun 1397 Saka.

Di dalam aras kelima, terdapat tatanan batu yang menggambarkan:

  • Surya Majapahit
  • Simbol phallus

Surya Majapahit yang digambarkan dengan kura-kura raksasa merupakan lambang penciptaan alam semesta, sedangkan phallus (penis) merupakan lambang penciptaan manusia.

Pada aras keenam, terdapat relief yang menceritakan kisah Sudamala — kisah yang menjadi dasar adanya upacara ruwatan.

Di aras ketujuh, ada 2 arca di utara dan selatan candi, yang bernama Sabdapalon dan Nayagenggong.

Selanjutnya di aras kedelapan, terdapat arca berbentuk phallus (penis) yang disebut Kuntobimo di sebelah utara dan arca Prabu Brawijaya.

Di aras kesembilan yang menjadi aras tertinggi, memiliki fungsi sebagai tempat berdoa.

Fakta

Hanya Berupa Reruntuhan Batu

Candi ini ketika ditemukan hanya berupa reruntuhan batu punden berundak yang memanjang dari barat ke timur.

Terdapat 14 punden berundak yang mana saat ini hanya tinggal 13 buah saja.

Bentuk punden berundak di candi ini diduga kuat disebabkan adanya perpaduan antara budaya asli nusantara (jaman dahulu) dengan corak agama Hindu.

Pemugaran

Di akhir tahun 1970, aspri Presien Soeharto yang bernama Sudjono Humardani mengubah banyak struktur asli candi dalam rangka pemugaran.

Walau punden berundak dipertahankan oleh beliau, keputusan Sudjono banyak ditentang oleh para pakar arkeologi, karena memang dibutuhkan ilmu spesifik untuk memugar situs bersejarah.

Penempatan Arca Baru

Rina Iriani, Bupati Karanganyar periode 2003 – 2008 kala itu menempatkan arca baru bernama Dewi Saraswati yang didapatkan dari Kabupaten Gianyar.

Hal ini dilakukan beliau dalam rangka untuk menyemarakkan gairah beragama di sekitar candi.

Alamat Lokasi / Letak

Mudahnya, Cetho bisa kamu temukan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Detail lokasinya:

Ceto, RT 01/03
Cetho, Gumeng
Jenawi
Kabupaten Karanganyar 57792

Maps

Rute

Berikut rute perjalanan bagi kamu yang dari luar kota, mau berwisata ke Cetho.

Dari Solo

Bila kamu mau ke Candi ini dari arah Solo, bablaskan kendaraanmu menuju Karanganyar, sampai di Terminal Karangpandan.

Setelahnya, arahkan ke kebun teh Kemuning. Ikuti jalan dan ambil jalur ke kanan sampai pada akhirnya sampai di area Candi.

Dari Semarang

Kamu dari kota Semarang?

Rute: Semarang > Solo > Karanganyar > Candi Cetho

Cek rute dari Solo untuk petunjuk arahnya ketika sudah masuk Karanganyar.

Dari Ngawi

Untuk kamu yang dari Ngawi, silakan ikuti rute berikut.

Rute: Jalan Maospati – Solo > Jalan Ngrambe Gendingan > Jalan Sine > Cetho

Dari Magetan

Rute Ngawi sebelum ini sebenarnya bisa juga kamu gunakan, apabila kamu berangkat dari Magetan.

Iya, kalau kamu dari Magetan, kamu bisa memilih di antara dua jalur untuk menuju Cetho (Karanganyar).

Yang pertama, lewat jalur Ngawi. Dan yang kedua, lewat jalur Sarangan.

Dari Madiun

Madiun itu kota yang bertetangga dengan Magetan. Jadi, jalur untuk menuju Cetho sama saja.

Yang membedakan, kamu harus pergi ke arah barat dulu menuju Magetan, sebelum menggunakan dua jalur yang bisa kamu pilih.

CATATAN: Semua rute yang disebutkan di sini hanya berupa ilustrasi dan catatan jalurnya. Lebih lengkap dan mudah, kamu bisa langsung akses Google Map di smartphone kamu. 🙂

HTM (Harga Tiket Masuk)

Harga tiket untuk masuk ke area Cetho ini sangatlah murah. Berikut rinciannya.

HTM wisatawan dalam negeri: Rp. 7.000,-/orang

HTM wisatawan mancanegara: Rp. 25.000,-/orang

CATATAN: Wisatawan yang sudah membayar HTM, nantinya akan diberikan kain Poleng. Kain ini berfungsi untuk menghormati kesucian candi.

Buka Jam Berapa

Kawasan wisata candi di Desa Cetho ini buka dari pukul 07.00 – 17.00 WWIB.

Fasilitas

Berhubung Candi Cetho berlokasi tepat di lereng Gunung Lawu sekaligus masih digunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu, kamu akan jarang menemui fasilitas lengkap seperti di lokasi wisata yang lain.

Tetapi, kalau kamu sekedar mencari warung yang menjual makanan atau minuman, insya Allah ada.

Penginapan / Homestay

Berencana menjelajah Cetho esok hari? Kamu membutuhkan penginapan untuk menghilangkan penat sebelum kembali bertualang.

Berikut jajaran baik hotel, penginapan, homestay, bahkan villa yang bisa kamu jadikan pilihan.

  • Pondok Wisata Lestari
  • De Villa Cetho
  • Sukuh Cottage
  • Grand Bintang Tawangmangu
  • Komajaya Komaratih Hotel
  • Homestay Eni Rosidah
  • Bintang Hotel Tawangmangu
  • Samara Homestay Tawangmangu

Jadi, kalau kamu salah satu penikmat situs-situs bersejarah terutama yang asli Indonesia, kamu wajib pakai banget untuk berkunjung ke Candi Cetho.

Selamat menjelajah!

Mungkin kamu juga mau baca ini:

    Merapi Park

    Jogja emang gak ada matinya! Kalau kamu berencana ke Jogja, siapin hari cuti yang panjang dan bujet yang banyak (uhuk) untuk bisa puas menjelajah Jogj ...

    Pantai Menganti

    ...  tempat menginap untuk beristirahat. Meotel Hotel Candisari Hotel Mexolie Hotel Permata Hotel Grand Putra Hotel ...

    Devoyage Bogor

    Sekarang kamu gak perlu mati-matian nabung untuk ke Eropa, kalau mau merasakan suasananya saja. Kamu cukup liburan ke objek wisata Bogor di Devoyage B ...

    Pantai Sadranan

    Kelebihan dari daerah yang berdekatan dengan laut lepas adalah potensi wisata pantainya yang indah. Jogja yang notabene berbatasan dengan Samudera  ...

Tinggalkan komentarmu, gaes...